Home Papua Upacara Bakar Batu Ritual Masak Masyarakat Papua

Upacara Bakar Batu Ritual Masak Masyarakat Papua

Warga satu kampung melakukan ritual memasak bersama

by Pace Papua

Di bumi Papua, terdapat banyak ritual dan upacara yang begitu populer. Salah satu yang cukup dikenal adalah upacara bakar batu. Saat kamu sedang berkunjung ke Wamena, maka akan bertemu dengan Suku Dani yang melakukan ritual adat satu ini.

Pengertian dan Asal-Usul Upacara Bakar Batu

Upacara bakar batu merupakan tradisi di Papua, yakni warga satu kampung melakukan ritual memasak bersama.

Pada perkembangannya, upacara bakar batu ini memiliki penyebutan yang berbeda-beda, yakni:

  • Kit Oba Isago di Wamena
  • Barapen di Jayawijaya
  • Mogo Gapil di Paniai

Pada umumnya tradisi ini dilakukan oleh suku pedalaman seperti:

  • Lembah Baliem
  • Nabire
  • Paniai
  • Pegunungan Tengah
  • Jayawijaya
  • Pegunungan Bintang
  • Dekai
  • Yahukimo

Dalam sejarahnya, upacara bakar batu bagi masyarakat pegunungan tengah Papua adalah pesta bakar daging babi.

Namun, sebagai bentuk toleransi, sekarang mereka tidak harus membakar babi. Terkadang, mereka juga membakar ayam, kambing, atau sapi.

 Tujuan Upacara Bakar Batu

Tradisi membakar batu di Papua juga bukan tanpa tujuan. Upacara bakar batu dilakukan sebagai bentuk syukur dan silaturahmi.

Tradisi ini juga dilakukan saat menyambut kebahagiaan, seperti:

  • Kelahiran
  • Perkawinan adat
  • Penobatan kepala suku
  • Mengumpulkan prajurit ketika ingin berperang

Namun, bukan hanya sebagai bentuk syukur. Tradisi ini juga menguatkan kebersamaan antar warga yang terlibat. Mereka akan merasa lebih dekat saat memasak bersama.

Upacara bakar batu juga menjadi simbol kesederhanaan masyarakat Papua. Khususnya dalam menjunjung persamaan hak, kekompakan, keadilan, kebersamaan, ketulusan, kejujuran, dan keikhlasan yang membawa pada perdamaian.

Para kaum muslim di Wamena juga biasanya melakukan tradisi satu ini. Dikatakan, sebelum memasuki bulan Puasa, mereka akan melakukan upacara bakar batu sebagai momen masyarakat agar saling memaafkan.

Prosesi Upacara Bakar Batu

upacara adat ini benar-benar melakukan pembakaran batu hingga membara. Setelahnya, bagian atas ditumpuk makanan yang akan dimasak. Meski terlihat mudah, prosesnya cukup memakan waktu yang panjang.

Bahkan, dikutip dari Indonesia.go.id, sebelum para undangan datang, sebagian masyarakat sudah sibuk menyiapkan bakar batu sejak pagi hari. Kaum laki-laki menyiapkan kayu, rumput, dan mencari bebatuan yang tidak mudah pecah.

Sedangkan pihak perempuan bertugas mengumpulkan sayur, ubi jalar, daun pisang, jagung, dan sayur-sayuran. Jika semua bahan sudah siap, hewan pun dimasukkan ke lapangan. Daging yang akan dimasak tidak langsung disembelih, namun dipanah terlebih dahulu.

Bila babi, sapi, ayam, atau kambing langsung mati, maka pertanda kalau acara akan berjalan sukses. Tapi, jika sebaliknya, ini pertanda acara tidak akan sukses.

Setelah semua siap, prosesi ritual upacara bakar batu dilakukan seperti berikut ini:

  • Batu ditumpuk di atas perapian dan dibakar hingga batu menjadi panas membara dan kayu bakar habis terbakar.
  • Bersamaan dengan itu, warga lainnya menggali lubang yang cukup dalam dan diberi alas daun pisang dan alang-alang.
  • Kemudian, batu panas tadi lalu dimasukkan ke dasar lubang tersebut.
  • Setelah itu, daun pisang ditumpuk di atas batu panas dan di atasnya daging yang sudah diiris-iris diletakkan.
  • Atas daging ditutup dengan daun pisang, kemudian di atasnya lagi diletakkan batu panas dan ditutup kembali dengan daun.
  • Ubi jalar (batatas), singkong (hipere), dan sayuran lainnya diletakkan di atas daun dan ditutup daun lagi.
  • Di atas daun yang paling atas akan ditumpuk batu panas dan terakhir ditutup lagi dengan daun pisang dan alang-alang.
  • Setelah itu, dimasak selama 1 jam. Asap akan mengepul dan aroma wanginya bisa membuat siapa pun tidak sabar untuk melahapnya.
  • Setelah matang, semua anggota akan berkumpul dan membagi makanan itu. Mereka akan makan bersama di lapangan tengah kampung.

 

Related Posts